POLA PELAKSANAAN PENDIDIKAN BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL EDUCATION)

Disarikan oleh
Zulkarnaini
(Widyaiswara Madya, Lembaga Penjamain Mutu Pendidikan Sumbar)

bigb2

1. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan, peserta diharapkan:

  1. mengenal dan memahami konsep dasar Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education);
  2. mengenal dan memhamai pola pelaksanaan  Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education)
  3. dapat menerapkan atau melaksanakan Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education) di kelas yang dibinanya.(4)   Melakukan penilaian terhadap pelaksanaan Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill Education)

2. Uraian Materi

2.1 Konsep Dasar Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (PBKH)

Pendidikan berlangsung pada setiap saat dan di setiap tempat. Setiap orang mengalami proses pendidikan melalui yang dijumpai dan dikerjakannya. Pendidikan berlangsung secara alamiah walau tanpa kesengajaan. Anak-anak sampai orang dewasa berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan lingkungan alam, memberinya pendidikan. Di Minangkabau itulah yang dikenal dengan ungkapan “alam takmbang jadi guru” (alam terkembang menjadi guru).

Pendidikan merupakan suatu sistem, yaitu sistematisasi  dari proses perolehan pengalaman sehingga menjadi pengetahuan. Oleh karena itu, filsosofi pendidikan  diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik dalam hidup dan kehidupannya. Dengan pengalaman belajar itu, diharapkan pembelajar mampu mengembangkan potensi dirinya, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema hidupnya. Pengalaman belajar itu diharapkan juga mengilhami pembelajar menghadapi problema hidup sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa tujuan pendidikan itu secara hakiki bagi manusia? Jawabnya amat sederhana. Tujuan pendidikan bagi setiap manusia adalah agar peserta didik mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan yang dihadapinya. Jika selesai mengikuti pendidikan, mereka belum mampu memecahkan masalah hidup dan kehidupan, pertanda tujuan pendidikan belum tercapai. Berdasarkan hal itulah, dalam pelaksanaan pendidikan, peserta didik perlu dibekali dengan kecakapan hidup (life skill). Pendidikan kecakapan hidup itu kemudian dikenal dengan “Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (PBKH).

Apakah kecakapan hidup itu?

Kecakapan hidup  adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasnya.

Konsep atau pengertian kecakapan hidup, lebih luas dari keterampilan untuk bekerja. Orang yang tidak bekerja, orang pensiunan, siswa, mahasiswa, dan sejenisnya tetap memerlukan kecakapan hidup. Seperti orang yang bekerja, mereka juga menghadapi berbagai masalah yang harus dipecahkan di dalam hidupnya. Hal itu jelas, karena hidup dan kehidupan ini merupakan masalah yang bersambung-sambung, selesai satu masalah, akan muncul masalah baru yang perlu dipecahkan dan diselesaikan. Oleh sebab itu, pembelajar kita perlu dibekali dengan kecakapan hidup.

Kecakapan hidup dapat dipilah atas dua jenis. Kedua jenis itu adalah kecakapan hidup yang bersifat umum (General Life Skill) dan kecakapan hidup yang bersifat khusus (Specific Life Skill). Kecakapan hidup yang bersifat umum adalah kecakapan hidup yang harus dimiliki seorang untuk dapat melakukan hal-hal yang brsifat umum. Kecakapan hidup yang bersifat khusus adalah kecakapan yang harus dimiliki seseorang untuk dapat melakukan hal-hal yang bersifat khusus. Dengan bekal kecakapan umum dan kecakapan khusus itu, dimungkinkan seseorang untuk dapat menghadapi kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan dan mampu memcahkan masalah hidup dan kehidupannya.

Kecakapan hidup yang bersifat umum (General Life Skill) dapat dipilah lagi atas tiga bagian. Ketiga bagian itu adalah kecakapan personal (Personal Skill), kecakapan sosial (Social Skill), dan kecakapan berpikir (Thinking Skill). Kecakapan hidup yang bersifat khusus (Specific Life Skill) dapat pula dipilah atas dua bagian. Kedua bagian itu adalah kecakapan akademika (Academic Skill) dan kecakapan vokasional (Vocational Skill).

Kecakapan personal (personal skill) adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang  untuk memiliki kesadaran atas eksistensi dirinya dan kesadaran akan potensi dirinya. Kesadaran akan eksistensi diri merupakan kesadaran  atas keberadaan diri. Kesadaran  atas keberadaan diri dapat dilihat dari beberapa sisi. Misalnya kesadaran diri sebagai makhluk Allah, sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk hidup, dan  sebagainya. Kesadaran akan potensi  diri adalah kesadaran yang dimiliki seseorang atas kemampuan dirinya. Dengan kesadaran atas kemampuan diri itu seseorang akan tahu kelebihan dan kekurangannya, kekuatan dan kelamahannya. Dengan kesadaran eksistensi diri dan potensi diri, seseorang akan dapat menempuh kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan dan mampu memecahkan masalah hidup dan kehidupannya.

Kecakapan sosial (social skill) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mampu berkomunikasi lisan, berkomunikasi tertulis, dan bekerja sama. Kemampuan berkomunikasi (lisan dan tulisan) diperlukan untuk menghadapi hidup dan kehidupan dengan wajar. Kemampuan itu bukan hanya sekedar dapat berkomunikasi, tetapi juga terkait dengan santun berkomunikasi, tatakrama berkomunikasi, dan sebagainya. Kecakapan bekerja sama sangat diperlukan, karena kehidupan ini dilalui dalam kebersamaan. Kecakapan bekerja sama ini banyak hal yang terkandung di dalamnya, seperti memahami perasaan orang lain, memahami kesukaan orang lain, menghormati orang  lain, dan sebagainya. Kecakapan sosial ini diperlukan oleh setiap orang agar ia mampu menghadapi kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan.

Kecakapan berpikir (thinking skill) meliputi kecakapan menggali informasi, kecakapan mengolah informasi, kecakapan mengambil keputusan, dan kecakapan memecahkan masalah. Kecakapan menggali informasi adalah kecakapan untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber dengan berbagai cara. Kecakapan mengolah informasi adalah kecakapan menyaring, menyeleksi, dan menyimpan informasi. Kecakapan mengambil keputusan ialah kecakapan memanfaatkan informasi untuk mengambil keputusan-keputusan tertentu sesuai dengan keperluannya. Sedangkan kecakapan memecahkan masalah adalah kecakapan dalam memecahkan problema hidup dan kehidupan dengan menggunakan informasi dan keputusan yang telah ada. Dengan kecakapan berpikir rasional ini (thinking skill), diharapkan seseorang tidak akan gamang menghadapi kehidupan, sehingga dia dapat menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan.

Kecakapan akademik (Academic Skill) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang di bidang akademik. Kecakapan akademik sering juga disebut kecakapan berpikir ilmiah yang merupakan kelanjutan dari kecakapan berpikir rasional. Jika kecakapan berpikir rasional (thinking skill) masih bersifat umum, kecakapan akademik sudah mengarah kepada kecakapan yang bersifat keilmuan (akademik). Kecakapan akademik antara lain meliputi kecakapan mengidentifikasi variabel, menghubungkan variabel dengan fenomena tertentu, merumuskan hipotesis,  dan merancang serta melakukan penelitian. Hal ini mungkin dapat dilatihkan dalam skala-skala sederhana kepada siswa SD dan MI sehingga tidak terkesan memaksakan.

Kecakapan vokasional (Vocational Skill) sering juga disebut kecakapan kejuruan. Kecakapan kejuruan artinya kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di dalam masyarakat. Pada tingkat SD dan MI mungkin dapat dilaksanakan dalam bentuk pravokasional seperti keterampilan-keterampilan sederhana yang tidak terlalu memberatkan.

Kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan berpikir, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional bukanlah kecakapan hidup (life skill) yang dapat dipilah-pilah dalam pelaksanaan atau dalam kenyataan. Kelima kecakapan itu kadang-kadang bisa menyatu dalam dan melebur dalam tindakan. Tindakan yang menyatukan dan meleburkan kecakapan tersebut biasanya melibatkan aspek fisik, mental, emosional, dan intelektual. Akan tetapi di dalam pembelajaran, guru dapat memberikan stresing (penekanan) kepada kecakapan tertentu.

2.2 Pola Pelaksanaan PBKH

Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup  dalam pelaksanannya tidak mengubah kurikulum. Mata pelajaran yang ada di dalam kurikulum saat ini tetap berlaku. Hal yang diperlukan adalah “menyiasati” pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran agar bergeser dari orientasi kepada  mata pelajaran menjadi orientasi kepada kecakapan hidup. Pelaksanaannya dilakukan melalui empat cara yaitu: (1) rerorientasi  pembelajaran; (2) pengembangan budaya sekolah; (3) manajemen pendidikan, dan (4) hubungan sinergis dengan masyarakat.

2.2.1 Reorientasi Pembelajaran

Pada reorientasi pembelajaran hal yang diperlukan adalah menyiasati kurikulum, khususnya mengintegrasikan PBKH ke dalam mata pelajaran. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk itu adalah:

  1. membaca dan memahami GBPP mata pelajaran atau Daftar Standar Kompetensi (kurikulum 2004);
  2. mengidentifikasi pokok bahasan dan subpokok bahasan, konsep dan subkonsep,  dan pembelajaran yang dapat dikaitkan dengan kecakapan hidup atau menyusun pengalaman belajar yang dilengkapi dengan kecakapan hidup untuk kurikulum 2004.
  3. merancang persiapan mengajar (PSP, RP) yang bermuatan kecakapan hidup;
  4. menyiapkan alat penilaian autentik (riil) yang dapat melihat keberhasilan PBKH;
  5. melaksanakan pembelajaran yang bermuatan kecakapan hidup;
  6. melakukan evaluasi pembelajaran yang bermuatan kecakapan hidup;
  7. merefleksi semua kegiatan yang dilakukan.

Di dalam persiapan pembelajaran, kecakapan hidup dapat digambar di dalam Program Satuan Pelajaran atau Rencana Pembelajaran. Di dalam kedua peangkat administrasi kegiatan belajar mengajar (KBM) itu, kecakapan hidup diterakan di skenario pembelajaran.  F

Basis utama pelaksanaan pembelajaran adalah Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) atau Daftar Standar Kompetensi (kurikulum 2004). Dari dokumen itulah PBM dilaksanakan. Oleh karena itu, kemampuan guru membaca dan memahami dokumen tersebut sangat diperlukan. Terkait dengan penyusunan persiapan mengajar yang bermuatan kecakapan hidup, hal penting yang harus dibaca dan dipahami guru dari GBPP adalah tujuan pembelajaran dengan kode satu digit di depannya (1.), pokok bahasan dengan kode dua digit di depannya (1.1), subpokok bahasan dengan kode tiga digit di depannya (1.1.1), dan pembelajaran yang diberi kode (o) di depannya.

Sedangkan untuk kurikulum 2004, hal yang perlu dipahami adalah standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan materi pokok. Dari pemahaman itu dirumuskan pengalaman belajar yang bernuansa kecakapan hidup dan penilaiannya. Hal-hal tersebut perlu dibaca dan dipahami untuk merancang silabus dan persiapan mengajar. (PSP atau RP).

Rencana Pembelajaran (RP) adalah persiapan mengajar yang dibuat oleh guru untuk setiap kali tatap muka atau untuk setiap kali pertemuan dalam satu mata pelajaran. Fungsinya adalah agar pembelajaran berlangsung secara efektif dan efisien. Komponen utamanya ialah Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK), materi pelajaran, langkah KBM atau skenario pembelajaran, dan alat penilaian. Sedangkan untuk kurikulum 2004 hal penting dalam rencana pembelajaran adalah skenario pembelajaran. Dapat dilihat dalam bahan ajar pembelajaran bahasa terintegrasi. Keempat komponen itu merupakan komponen utama di samping komponen lain seperti identitas, media pembelajaran, dan sebagainya.

TPK adalah harapan seorang guru terhadap siswanya setelah KBM dilaksanakan. TPK biasanya diturunkan dari tujuan pembelajarn yang ada di dalam GBPP dan diformulasikan dengan PB, SPB, dan pembelajaran. Hal itu berlaku untuk semua mata pelajaran, kecuali Bahasa Indonesia yang TPK-nya diturunkan dari pembelajaran. TPK ini menjadi penting dalam pembelajaran, karena merupakan harapan dari guru terhadap siswanya. Jika TPK tidak ada, kemudian guru masuk kelas, berarti guru tidak memiliki harapan yang jelas dan tegas. Oleh karena itu, sebelum masuk kelas guru benar-benar mempersiapkan harapannya yang diaktualisasikan di dalam TPK itu.

Materi pelajaran adalah alat untuk mencapai tujuan. Bukan tujuan, bukan tujuan! Materi dapat berupa konsep kelimuan, norma, dan cara. Jenis materi itu tergantung kepada sifat dan karakterisitik mata pelajaran. Formulasi materi yang tepat dan berdaya guna, ialah formulasi yang mengacu kepada pencapaian tujuan. Dengan demikian, materi hanyalah sebagai alat semata, bukan tujuan.

Langkah-langkah KBM adalah skenario pembelajaran. Skenario tersebut merupakan pengalaman belajar yang dirancang guru untuk siswanya dalam rangka mencapai tujuan. Pengalaman-pengalaman kecil yang dipersiapkan guru untuk dilalui siswa merupakan kegiatan belajar siswa di kelas. Melalui pengalaman-pengalaman itulah siswa belajar, siswa mencapai tujuan atau harapan yang telah dirumuskan guru. Dalam konteks ini, siswa bukan diajari, tetapi dibelajarkan. Di sini pulalah kesempatan bagi guru untuk membiasakan diri menjaid fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa di kelas.

Alat penilaian adalah seperangkat tes atau nontes untuk melihat atau mengumpulkan data tentang kemajuan belajar siswa. Informasi yang dikumpulkan dari pembelajaran adalah meliputi tiga aspek yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek kognitif dapat dinilai melalui tes, aspek afektif melalui observasi, dan aspek psikomotorik melalui tes dan observasi. Alat penilaian tersebut perlu dirumuskan oleh guru sebagai sarana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa.

Pelaksanaan pembelajaran berorientasi kecakapan hidup dapat menggunakan berbagai pendekatan. Pendekatan yang disarankan antara lain pendekatan konstruktivisme dan pendekatan pembelajaran kontekstual. Kedua pendekatan itu digunakan sehingga: (1) siswa lebih aktif; (2) fungsi guru lebih sebagai fasilitator daripada sebagai informan; (3) materi yang dipelajari bermanfaat untuk menghadapi kehidupan; (4) iklim di dalam kelas menyenangkan; (5) siswa terbiasa mencari informasi dari berbagai sumber; dan (6) menggeser teaching menjadi learning. Untuk melaksanakan tuntutan tersebut, salah satu jalan yang dapat dilakukan guru adalah membuat persiapan mengajar (RP) yang aplikatif, berdayaguna, dan berhasil guna.

2.2.2  Pengembangan Budaya (Kultur) Sekolah

Pendidikan berlangsung bukan hanya di dalam kelas. Pendidikan juga terjadi di luar kelas. Di lingkungan sekolah, di lingkungan keluarga, di lingkungan masyarakat, dan lingkungan-lingkungan lain, pendidikan juga berlangsung. Terkait dengan PBKH tidak dapat dibebankan kepada guru semata, tetapi ditunjang oleh lingkungan yang kondusif. Lingkungan itu di antaranya ialah lingkungan sekolah.

Pelaksanaan PBKH memerlukan dukungan perubahan budaya sekolah yang mendorong berkembangnya budaya belajar, sehingga di sekolah tercipta prinsip  “belajar bukan untuk sekolah, tetapi belajar untuk hidup, belajar bukan untuk ujian, tetapi untuk memecahkan masalah (problema)  kehidupan”.

Ada tiga aspek pendidikan yang dapat dikembangkan melalui budaya sekolah yang kondusif. Ketiga aspek itu adalah pengembangan disiplin diri dan rasa tanggung jawab, pengembangan motivasi belajar, dan pengembangan rasa kebersamaan. Oleh karena itu, ketiga aspek itu hendaknya menjadi budaya warga sekolah yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

2.2.3 Manajemen Sekolah

Departemen Pendidikan Nasional telah meluncurkan rintisan manajemen berbasis sekolah.  Manajemen berbasis sekolah (MBS) adalah salah satu model manajemen yang memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengurus dirinya dalam rangka peningkatan mutu. Prinsip dasar manajemen berbasis sekolah itu adalah kemandirian, transparansi, kerja sama, akuntabilitas, dan sustainbilitas. Kelima prinsip dasar itu sangat terkait dengan prinsip-prinisp kecakapan hidup yang akan dikembangkan di dalam Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup. (untuk manajemen sekolah perlu dibahas tersendiri pada kegiatan lain).

2.2.4 Hubungan Sinergis antara Sekolah dengan Masyarakat

Penanggung jawab pertama terhadap pendidikan anak adalah orang tua. Sekolah hanya membantu orang tua dalam pelaksanaan pendidikan. Anak-anak, ternyata jauh lebih berhadapan dengan orang tua dan mayarakat dalam kesehariannya dibandingkan dengan sekolah. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan PBKH keterlibatan orang tua dan masyarakat tidak dapat dihindari.

Hubungan sinergis artinya saling bekerjasama dan saling mendukung. Orang tua atau masyarakat dan sekolah perlu bersama-sama menentukan arah pendidikan bagi anak-anak. Kemudian memikirkan usaha-usaha untuk mencapai arah tersebut. Di dalam manajemen Berbasis Sekolah, orang tua sebagai orang yang berkepentingan memiliki kesempatan ikut menentukan kebijakan pendidikan di sekolah. Misalnya, orang tua ikut menentukan rencana pengembangan sekolah, aplikasi kurikulum, pembiayaan dan sebagainya. Khusus hubungan sinergis sekolah dengan masyarakat ini perlu dibahas dalam waktu tertentu.

2.3 Penilaian

Reorientasi Pembelajaran  menuju kecakapan hidup mengandung konsekuensi  kepada evaluasi hasil belajar. Evaluasi dengan bentuk tertulis (paper and pencil test), apalagi dengan soal-soal pilihan ganda  yang bersifat satu jawaban yang benar (konvergen) tidak lagi memadai. Masalah dalam hidup dapat dipecahkan dengan berbagai alternatif.  Oleh karena itu, soal-soal ujian atau ulangan sebaiknya mengacu kepada pemecahan masalah (problem based). Hal itu bisa mencakup uji kinerja (performance based test). Yang paling dianjurkan adalah bentuk evaluasi otentik atau penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).

Penilaian yang sebenarnya dilakukan terhadap proses belajar, bukan hanya hasil belajar. Penilaian ini meliputi tiga aspek atau ranah pembelajaran. Ketiga ranah itu adalah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap dan nilai-nilai), dan ranah psikomotor (keterampilan dan kemampuan berpraktik). Ketiga ranah itu dinilai melalui alat penilaian yang sesuai dengan informasi yang akan dikumpulkan.

3. Pertanyaan dan Tugas

3.1 Pertanyaan

Setelah membaca sarian materi ini, jawablah pertanyaan berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan Life Skill ? Jelaskanlah jawaban Anda!
  2. Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi dua yakni, kecakapan hidup yang bersifat umum dan kecakapan hidup yang bersifat khusus. Jelaskanlah kedua kecakapan hidup itu dengan rinciannya!
  3. Menurut Anda, apakah kelima kecakapan hidup yang dikemukakan di dalam tulisan ini dapat diterapkan dalam pembelajaran? Berilah alasan atas jawaban Anda!
  4. Ada empat pola pelaksanaan PBKH di sekolah. Jelaskanlah satu persatu!

3.2 Tugas

Pilihlah indikator dalamsilabus mata pelajaran, kemudian rancanglah persiapan mengajar untuk satu kali pertemuan atau lebih. Kegiatan dapat dilakukan secara individu atau berkelompok.

Selamat bekerja!

Padang,  Juni 2004


Tulisan ini dipublikasikan di Tulisan dan tag . Tandai permalink.

24 Balasan ke POLA PELAKSANAAN PENDIDIKAN BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILL EDUCATION)

  1. niky berkata:

    Assalamuaialakum.
    pak saya, mau lebih tau tentang kecakapan berpikir rasional sebagai bahan untuk mwnyusun skripsi. tolong kirim semua tentang kecakapan berpikir rasionalnya donk pak,sekaligus cara penilaiannya.
    terimakasih banyak.

  2. arif berkata:

    terima kasih pak.

  3. Hartati Kartiningsih berkata:

    Assalamualikum,
    saya hanya pngin cara mendidik anak lewat kecakapan dalam sehari – hari dalam keluarga???

    • zulkarnainidiran berkata:

      Bu, Hartati walaikum salam. Pendidikan anak yang paling dianjurkan adalah pemberian contoh. Kata Rasullullah “uswathun hasanah”, kata Ki Hajar Dewantoro, “ing ngarso sung to lodo”. Contoh-contoh yang diberikan oleh orang tua dan orang dewasa dalam rumah tangga sangat berpengaruh kepada anak-anak, tentu saja dalam pemberian contoh harus konsisten atau taat asas. “Sesungguhnya bahasa perbuatan lebih bermakna dari bahasa perkataan”. Bu Tati, terimakasih telah mampir ke blog saya.

  4. Niky berkata:

    Assalamualakum, pak.
    Saya sedang mengajuka skripsi tentang kecakapan berpikir rasional siswa. Dan dosen saya meminta lembar observasinya dari tesis, disertasi atau yang telah di uji validitas. mohon bantuannya jika bapak mempunyai lembar observasi kecakapan berpikir. kemudian instrumen apa saja yang dapat digunkan dalam penilaian kecakapan berpikir rasional siswa. terima kasih banyak sebelumnya.

    • zulkarnainidiran berkata:

      Instrumen penelitian ditentukan oleh jenis dan bentuk data yang akan dikumpulkan. Data yang akan dikumpulkan ditentukan oleh rumusan masalahnya. Untuk mengambil begitu saja instrumen dari tesis dan disertasi seperti yang disarankan dosen, juga termasuk yang mustahil. Baiknya berkonsultasilah kembali dengan dosen Niky, ya. Dengan demikian akan jelas hal yang akan dikerjakan. Atau kalau Niky tidak keberatan, silakan tuliskan di sini rumusan masalahnya, jenis data, dan bentuk data yang diperlukan. Mungkin, kita dapat berdisksui kemudian. Salam.

  5. yubroz berkata:

    saya bingung dalam membuat soal yang berorientasi thinking skill dalam matematika

    • zulkarnainidiran berkata:

      Tidak usah bingung. Untuk menyusun instrumen penilaian (tes atau nontes) pedoman utamanya adalah indikator. Jika indikator pencapain kompetensi Anda sudah benar, instrumen penilaian (soal tes bisa dibuat). Untuk itu dapat dipelajari Panduan Penyusunan KTSP Badan Standar Nasional, Permendikna 22/2006 tentang Stanar Isi, Permendiknas 20/2007 tentang Standar Penilaian. Kecakapan berpikir (thingking skill) akan tergambar di dalam indikator yang benar yang diturunkan dari Kompetensi Dasar. Oke, ya. Selamat bertugas.

  6. ULIL AZMI berkata:

    ASSALAMUALAIKUM MAMAK. MAMAK TOLONG MATERI JO INSTRUMEN KECAKAPAN SOSIAL UNTUOK SISWA SMP MAMAK ? AMBO MOHON BANTUAN MAMAK,
    TARIMOKASIH
    WASSALAM

    • zulkarnainidiran berkata:

      Waalaikum salam, materi jo instrumen kecakapan sosial maksudnya apo, yo? Apo nan dimakasuik Ulil tu yang berhubungan jo kecakapan hidup dala standar isi atau apo? Tolong jalehan, dih. Kalau bisa ambo bantu yo dibantu. Salam

  7. djamilah berkata:

    Makasih ya Pak.
    Saya jadi lebih memahami bagaimana seharusnya saya mendidik siswa-siswi saya.
    Semoga Allah melimpahkan Rahmad-Nya selalu kepada Bapak.
    Amin……….3x ya Rabbal Alamin……………

  8. wulan berkata:

    bagaimana cara menilai kacakapan hidup pak?. mohon bantuannya…

  9. Ping-balik: RPS « SRI HARTATIK'S BLOG

  10. suhaya dirahman berkata:

    Tarimakasih Pak, tulisan bapak sangat bergunabagi saya

  11. limomotor@yahoo.com berkata:

    Setalah dirasa mampu u mengembangkan potensi serta menciptakan lapangan kerja ditengah masarakat melalui prgram life skill tentu nya kami ingin mengembangkan usaha ini lbh profesiona sesuai dgn permintaan pasar namun terkendala akan sarana pendukung namun kami ttp optimis akan bergerak u maju
    pertanyaan nya Bpk apakah ada suatu program yg berkelanjutan dari Program ini sehingga kami bisa dgn cepat menysuaikan keterampilan yg kami punyai dgn pasar dan dpt bersaing ditengah dunia usaha lain yg memiliki IT yg canggih? mksh

  12. murniati berkata:

    selamat pagi,,,,, saya bingung dalam mencari buku tentang keterampilan sosial, bisa anda kirimkan judul buku yang anda pakai?

  13. Enci Encu berkata:

    pak saya mau mencari buku tentang life skills diamana ya?terimaksh

  14. syam berkata:

    apakah ada sumber buku tentang kecakapan hidup ini pak, judul bukunya apa? mohon bantuannya, skripsi saya mengenai kecakapan hidup

  15. rani berkata:

    apa hakekat life skill pak??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s