MENULIS SEBAGAI KEGIATAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU

oleh

Zulkarnaini

1. Pendahuluan

Ada enam tugas pokok guru yang berkaitan dengan proses belajar mengajar (pembelajaran). Keenam bidang tugas itu dikenal dengan istilah “Standar Prestasi Kerja Guru (SPKG)”. Rincian dari keenam tugas itu adalah: (1) menyusun program pengajaran atau praktik atau bimbingan dan konseling; (2) menyajikan program  pengajaran atau praktik atau bimbingan dan konseling; (3) evaluasi belajar atau praktik atau bimbingan dan konseling; (4) analisis hasil evaluasi belajar atau praktik atau bimbingan dan konseling; (5) penyusunan dan pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan atau tindak lanjut pelaksanaan bimbingan dan konseling; dan (6) pengembangan profesi dengan angka kredit sekurang-kurangnya dua belas. Hal ini tertuang di dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025/O/1995, tentang “Petunjuk Teknis Ketentuang Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, “yang kemudian disesuaikan beberapa kali untuk beradaptasi dengan perkembangan birokrasi dan manajemen ketenagaan bidang pendidikan.

Standar prestasi kerja guru (SPKG) adalah kegiatan minimal yang wajib dilakukan guru dalam proses belajar mengajar atau bimbingan untuk dapat naik pangkat/jabatan. Kegiatan minimal itu berbeda untuk setiap jabatan guru. Guru pratama sampai dengan guru dewasa tingkat satu SPK-nya adalah nomor 1 sampai dengan nomor 3 seperti rincian di atas. Guru Pembina sampai dengan guru utama SPK-nya nomor 1 sampai dengan 6 seperti rincian di atas.

Dari kenyataan sehari-hari dan kondisi pangkat dan jabatan guru di Tanah Air, hal yang “dianggap sulut” untuk dilakukan oleh guru adalah yang nomor enam “pengembangan profesi”. Oleh karena itu, pada saat ini banyak pangkat dan golongan guru yang menumpuk pada Pembina IV-a, atau pada jabatan guru pembina. Apakah memang pengembangan profesi itu sesuatu yang sulit? Inilah yang akan dibahas pada makalah sederhana ini. Konsentrasinya adalah pengembangan profesi melalui “karya tulis”. Bahasan makalah hanya akan terbatas pada bidang menulis saja, itupun hanya akan disajikan secara garis besar sesuai dengan permintaan panitia kegiatan ini.

Untuk memudahkan pembahasan, makalah ini dipilah atas beberapa pokok pikiran. Pokok pikiran itu meliputi: (1) konsep dan macam pengembangan profesi; (2) karya tulis/karya ilmiah bidang pendidikan; (3) perihal menulis; dan (3) penelitian tindakan kelas.  Dengan keempat pokok pikiran itu, diharapkan makalah ini akan dapat menjadi landasan diskusi bagi peserta kegiatan ini.

2. Pengembangan Profesi

Depdikbud, 1995: 2 menyatakan,

“Pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan keterampilan untuk peningkatan  mutu baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan  sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan.”

Kutipan ini merupakan konsep dasar dari pengembangan profesi. Hasil karya guru, khususnya karya tulis guru terkategori pengembangan profesi atau tidak, mengacu kepada konsep ini. Pemahaman terhadap konsep ini akan menghasilkan karya pengembangan profesi. Kekeliruan memahami konsep ini akan melahirkan karya yang bukan pengembangan profesi. Jika karya itu sampai ke tangan tim penilai angka kredit, khususnya pengembangan profesi, sudah barang tentu tidak akan dinilai. Jadi, indikator utama pengembangan profesi, khususnya karya tulis pengembangan profesi adalah mengacu kepada konsep ini.

Jika pengembangan profesi dalam bentuk karya tulis, karya tulis itu adalah laporan dari ‘pengamalan ilmu, pengamalan pengetahuan, pengamalan teknologi, dan pengamalan keterampilan. Selain itu, kegiatan atau pengamalannya haruslah untuk peningkatan mutu, haruslah peningkatan kualitas. Kualitas yang ditingkatkan dengan pengamalan itu adalah kualitas proses belajar mengajar (pembelajaran), kualitas profesionalisme. Kualitas pembelajaran yang dihasilkan atas pengamalan itu akan bermuara kepada kualitas hasil. Kualitas profesionalisme yang dihasilkan atas pengamalan itu akan bermuara kepada kualitas guru itu sendiri. Selain itu, pengamalan tersebut dapat pula berupa produk atau hasil. Produk atau hasil bisa dalam bentuk konsep, gagasan, atau wujud nyata berupa fakta. Produk yang dianggap sebagai pengembangan profesi dari hasil pengamalan itu adalah produk yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan.

Ada lima macam kegiatan guru yang termasuk kegiatan pengembangan profesi.  Kelima macam kegiatan itu adalah: (1) melaksanakan kegiatan karya tulis/ karya ilmiah di bidang pendidikan; (2) menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan; (3) membuat alat pelajaran/peraga atau alat bimbingan; (4) menciptakan karya seni; dan (5) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum. Sampai hari ini, hanya kegiatan karya tulis/karya ilmiah di bidang pendidikanlah yang dilengkapi dengan buku pedoman, sedangkan yang lain belum ada buku pedomannya. Oleh karena itu, kegiatan karya tulis/ karya ilmiah dianggap yang paling berpeluang untuk mendapatkan angka kredit bagi jabatan guru.

3. Karya Tulis/Karya Ilmiah Bidang Pendidikan

Karya tulis ilmiah bidang pendidikan terdiri dari tujuh macam. Ketujuh macam itu adalah: (1) karya (tulis) ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey, dan atau evaluasi di bidang pendidikan: (2) karya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan; (3) tulisan ilmiah popular di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa; (4) prasaran yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah; (5) buku pelajaran atau modul; (6) diktat pelajaran; dan (7) karya penerjemahan buku pelajaran/karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan. Ketujuh macam karya tulis itu memiliki hitungan angka kredit yang berbeda-beda sesuai dengan jenis karyanya dan publikasinya.

Secara garis besar, Depdikbud, 1995: 6-7 mengelompokkan macam karya ilmiah secara sederhana atas tiga kelompok yakni:

(1) laporan hasil kegiatan ilmiah (no.1); (2) tulisan ilmiah (no. 2,3, dan 4); dan (3) buku (no. 5, 6, dan 7).  Laporan hasil kegiatan ilmiah adalah karya tulis yang berisi sajian hasil penelitian, pengembangan atau evaluasi yang disajikan dengan menggunakan kerangka isi, aturan, dan format tertentu. Laporan hasil kegiatan ilmiah umumnya dipublikasikan secara terbatas dan secara luas dalam bentuk buku. Tulisan ilmiah adalah karya tulis yang merupakan ringkasan laporan hasil kegiatan ilmiah atau tinjauan atau ulasan ilmiahyang disajikan dengan menggunakan kerangka isi, atauran, dan format tertentu. Tulisan ilmiah dapat berwujud artikel, makalah, naskah siaran radio, dan berbagai wujud lain. Tulisan ilmiah yang disajikan  dalam format  dan bahasa yang popular disebut sebagai tulisan ilmiah popular. Buku adalah karya tulis yang berisi bahan pelajaran yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Buku tersebut dapat berupa buku pelajaran, modul, diktat, dan karya terjemahan.

Penyederhanaan pengelompokan itu dimaksudkan untuk memudahkan guru. Dengan kelompok itu guru dapat menetapkan, memilih, karya tulis (ilmiah) mana yang akan dipilih. Memilih salah satu, dua, atau ketiga-tiganya. Dengan pemilihan itu pun guru dapat memprediksi angka kredit yang akan diperolehnya untuk setiap karya.

4. Perihal Menulis

Menulis adalah tindak komunikasi yang pada hakikatnya sama dengan berbicara. Kesamaan itu terletak pada tujuan dan muatannya. Tujuan menulis atau berbicara adalah untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sedangkan muatannya (sesuatu itu) adalah berupa pikiran, perasaan, gagasan, pesan, dan pendapat. Perbedaannya terletak pada penggunaan media. Jika berbicara menggunakan bunyi bahasa sebagai mediumnya, sedangkan menulis menggunakan lambang bunyi bahasa sebagai alat penyampainya. Kemahiran yang diperlukan untuk berbicara adalah kemahiran menggunakan bunyi bahasa dan kemahiran untuk menulis adalah kemahiran menggunakan lambang bunyi bahasa. Jika seseorang menganggap menulis itu sama dengan berbicara, ia akan berkata ”menulis itu gampang”.

Ada dua hal penting yang diperlukan dalam menulis. Kedua hal itu adalah bahan tulisan dan cara menuliskannya. Bahan tulisan dapat diperoleh di mana-mana. Pengalaman sehari-hari di dalam keluarga, di dalam kelas, di dalam masyarakat misalnya, merupakan pengalaman yang mangkus untuk diutliskan. Hasil tontonan di televisi seperti sinetron, ceramah agama, pidato pejabat, dialog interaktif umpamanya, juga dapat menjadi bahan tulisan. Hasil membaca surat kabar, majalah, novel, buku referensi juga merupakan bahan tulisan yang tidak akan pernah kering. Jadi, untuk mendapatkan bahan tulisan ternyata berbagai sumber dapat dimanfaatkan.

Bahan tulisan yang bertebaran itu perlu diikat, dodokumentasikan. Tanpa ikatan ia akan datang dan pergi dengan mudah. Pengalaman yang menyenangkan, membahagiakan, menyedihkan, dan mengenaskan akan datang silih berganti dalam keseharian. Ia akan datang dan pergi dengan mudah. Hal itu akan berlangsung sepanjang hidup jika tidak diikat atau direkam. Yang dibaca hari ini akan mudah terlupakan jika tidak didokumentasikan. Hal yang didengar hari ini akan hilang dan pupus bila tidak dicatat. Oleh karena itu, membuat catatan pengalaman, bacaan, dan pendengaran, pengamatan (penglihatan), merupakan usaha dini dalam mengumpulkan bahan tulisan. Pesan Ali bin Abi thalib r.a. ”Ikatlah ilmu dengan menuliskannya!” Masihkan kita membuat catatan harian seperti ketika remaja dulu?

Cara nmenuliskannya adalah cara membahasakannya. Membahasakan berarti menggunakan bahasa untuk mengomunikasikan bahan tulisan. Penggunaan bahasa terkait dengan kemahiran menggunakan kata, kalimat, paragraf, dan wacana. Hal yang berhubungan dengan kemahiran menggunakan kata adalah penguasaan kosakata, sinonim kata, makna kata, bentuk kata, jenis kata, dan sebagainya. Penggunaan kalimat, paragraf, dan wacana pun demikian. Artinya penggunaan bahasa berhubungan dengan pengetahuan tata bahasa dan keterampilan menggunakan bahasa.

Penguasaan kosakata penting, penguasaan tata bahasa penting, penguasaan kaidah-kaidah penulisan juga penting. Akan tetapi, yang lebih penting adalah keterampilan ”menggunakan” bahasa sebagai alat komunikasi. Artinya, menulis adalah bentuk tindak berkomunikasi. Timbangan utama untuk tahap awal adalah kekomunikatifannya. ”Adakah saya mengerti apa yang saya tuliskan?” Jika jawabannya, ”ya” diasumsikan orang lain juga mengerti. Jadi jangan tanyakan, ”Apakah tulisan saya telah memenuhi kriteria dan kaidah bahasa?”  Hal itu untuk tahap permulaan tidaklah terlalu penting, yang terpenting adalah kekomunikatifannya.

Untuk sampai ke tingkat kemahiran itu, tidak ada jalan lain, kecuali berlatih. Berlatih dapat dilakukan setiap hari. Untuk berlatih tidak memerlukan waktu khusus. Yang penting sediakanlah sedikit waktu tiap hari untuk menulis. Tulislah apa saja, tentang apa saja. Selesai membaca tulislah sariannya. Selesai melakukan kegiatantulislah deskripsinya, kesannya, dan keomentarnya. Selesai mendengar dan melihat tulislah inti sari yang didengar dan yang dilihat. Lakukanlah setiap hari. Jadikan menjadi kebutuhan. Setelah berlangsung selama satu dua minggu lakukan penilaian terhadap kemahiran. Percayalah, Anda akan ”kaget, terkejut” atas kemajuan yang dicapai. Cobalahh!

Buku harian adalah media yang paling mangkus untuk berlatih kemahiran menulis. Dulu, ketika remaja ternyata kita memiliki buku harian. Tiap hari diisi secara rutin. Biasanya diisi pada saat menjelang tidur atau diujung malam atau pada akhir aktivitas keseharian. Akan tetapi, kenapa setelah dewasa, setelah ”jadi orang”, kita enggan mengisi buku harian. Padahal, semakin banyak yang dialami dalam hidup, semakin banyak yang dapat diulis untuk menghiasi buku harian. Berbagai alasan akan dicari untuk tidak menulis buku haria. Ada alasan waktu, alasan sibik, alasan banyak pekerjaan, dan sebagainya. Memang, ”orang berhasil kelebihan satu cara, orang gagal kelebihan satu alasan, orang yang selalu gagal sangat kreatif mencari alasan”.

Menulis pada dasarnya adalah keterampilan biasa. Keterampilan menggunakan kata, kalimat, dan paragraf untuk mengomunikasikan sesuatu. Keterampilan itu sama dengan keterampilan-keterampilan seperti main bola kaki, bola voli, naik sepeda, mengukir, dan sebagainya. Untuk memperoleh keterampilan tentu saja tidak ada jalan yang lebih mulus, kecuali berlatih. Untuk berlatih memerlukan kemauan. Hanya satu kata saja yang perlu ”mau”. Kemauan akan memberi dorongan untuk pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan materi. Mari, kita mulai! Tidak ada yang terlambat, asal dimulai hari ini.

5. Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan guru untuk pengembangan profesi. PTK dianggap efektif untuk pengembangan profesi bagi guru. Hal itu terkait dengan konsep PTK, karakteristik PTK, prinsip  PTK, trujuan, manfaat, dan prosedur pelaksanaan  PTK.

5.1 Konsep Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu suatu upaya dari pihak terkait, khususnya guru sebagai pengajar, untuk meningkatkan atau memperbaiki proses belajar mengajar ke arah tercapainya tujuan pendidikan atau pengajaran itu sendiri. Masalah penelitiannya bersumber dari lingkungan kelas yang dirasakan sendiri oleh guru untuk diperbaiki, dievaluasi dan akhirnya dibuat suatu keputusan sebagai solusi dan dilaksanakan suatu tindakan untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran tersebut (Indrawati, dkk. 2001:10).

Pada dasarnya, guru telah melaksanakan penelitian ini. Guru yang piawai, senantiasa melakukan perbaikan terhadap pembelajaran yang dilakukannya. Jika hari ini guru kurang puas dengan proses pembelajaran yang dilakukan, dia berusaha memperbaikinya untuk besok, dan begitu seterusnya. Ketidakpuasan guru dalam proses pembelajaran adalah mencirikan adanya masalah. Masalah tersebut muncul dari lingkungan kelas. Hal itu dirasakan sendiri oleh guru untuk diperbaiki.  Dengan kegiatan itu, pada hakikatnya, guru telah  melakukan penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas adalah salah satu usaha untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan.

Dengan demikian, konsep dasar PTK adalah: (a) mengetahui secara jelas masalah-masalah yang ada di kelas; (b) mengatasi masalah-masalah yang ada di kelas.

Guru sebagai peneliti dalam PTK, pertama-tama mencari masalah yang dihadapi di kelasnya. Masalah itu ditemukan di dalam pembelajaran, bukan di luar pembelajaran. Kemudian, masalah itu dikaji, dibahas, terutama hal-hal yang berhubungan dengan akibat atau dampaknya, cara mengatasinya, dan tindakan-tindakan yang adapat dilakukan untuk mengatasinya. Jadi, peneliti menemukan hal yang harus diperbaiki dan menggunakan tindakan untuk mengatasinya.

Suyanto dalam Depdiknas (2004) menyatakan,

“Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional.”

PTK dikatakan bersifat reflektif karena guru sebagai peneliti selalu memikirkan apa dan mengapa satu dampak tindakan terjadi di kelas. Dari pemikiran itu kemudian dicarikan pemecahannya. Pemecahan tersebut berupa tindakan-tindakan. Sebelum tindakan dilakukan harus ada perencanaan terlebih dahulu. Pada perencanaan inilah terletaknya perbedaan antara yang biasa dilakukan guru dengan PTK yang sebenarnya.

Bedasarkan hal itu, Depdiknas mengungkapkan bahwa PTK merupakan: (a) bentuk kajian yang sistematis reflektif; (b) dilakukan oleh pelaku tindakan atau guru; (c) dilakukan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran.

Wujud pelaksanaan PTK meliputi empat hal penting. Keempat hal itu dimulai dari refleksi, kemudian dilanjutkan dengan perencanaan, diteruskan dengan tindakan, tindakan diobservasi untuk keperluan evaluasi. Selanjutnya masuk ke putaran (siklus) berikut, yakni refleksi lagi. Begitulah seterusnya sampai masalah yang dihadapi dapat diselesaikan.

5.2 Karakteristik PTK

Indrawati (2001:11) mengungkapkan sepuluh karateristik PTK. Kesepuluh karakteristik itu adalah seperti berikut ini.

(1)         Masalah yang diangkat untuk dipecahkan melalui PTK harus berasal dari persoalan praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi guru. Permasalahan penelitian hendaknya bersifat kontekstual dan spesifik.

(2)         Tujuan utama PTK adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki praktik-praktik pembelajaran secara langsung ketimbang menghasilkan pengetahuan baru.

(3)         PTK berlingkup makro, dilakukan dalam lingkup kecil, bisa satu kelas atau beberapa kelas di satu sekolah sehingga tidak terlalu menghiraukan kereprentatifan sampel. Istilah sampel dan populasi tidak diperlukan dalam PTK, karena hasilnya bukan untuk digeneralisasi.

(4)         Hasil atau temuan PTK adalah pemahaman yang mendalam (komprehensif) mengenai kehidupan/fenomena pembelajaran di kelas.

(5)         PTK bersifat praktis dan langsung, relevan untuk situasi actual dalam dunia kerja atau dunia pendidikan.

(6)         Pada PTK, peneliti (guru) tetap melaksanakan tuga mengajarnya sehari-hari di kelas, dan guru sebagai peneliti dapat melakukan perubahan-perubahan atau pemecahan masalah untuk memperbaiki atau meningkatkan pembelajaran.

(7)         PTK adalah jenis penelitian terapan yang melibatkan peneliti secara aktif dan langsung, mulai dari pembuatan rancangan penelitian, rencana tindakan, hingga pada penerapannya dengan modifikasi  intervensi yang sesuai dengan perkembangan kelas.

(8)         PTK bersifat fleksibel dan adaptif, membolehkan perubahan-perubahan selama dalam masa penelitian, tidak menghiraukan kontrol demi kepentingan pelaksanaan yang lebih terfokus pada penelitian (on the spot experimentation) dan inovasi.

(9)         PTK dalat dilaksanakan secara koloboratif, yaitu kerjasama di antara guru dan teman sejawat, atau kepala sekolah dan pakar pendidikan, untuk berbagi kepakaran dan pemahaman terhadap  fenomena yang diteliti. PTK juga dapat dilakukan secara individual (oleh hanya seorang peneliti), dan atau dalam bentuk tim peneliti.

(10)     PTK dilaksanakan dengan langkah-langkah berupa siklus yang sistematis, dengan urutan: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Depdiknas (2003) menyebutkan  tiga karakteristik penelitian tindakan kelas (PTK). Ketiga karakteristik  itu adalah: (1) permasalahan diangkat dari dalam kelas; (2) penelitian bersifat kolaboratif; dan (3) adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki pembelajaran.

Permasalahan PTK harus diangkat dari dalam kelas. Bukan masalah di luar kelas. Artinya, masalah-masalah yang menjadi dasar dari PTK adalah masalah interaksi guru dengan siswa dalam pembelajaran, bukan yang berada di luar itu. Jika tempat tinggal anak jauh dari sekolah, kemudian pembelajarannya terganggu, itu bukan masalah PTK. Akan tetapi, anak tidak mau mengajukan pertanyaan di kelas, ia cenderung pasif, itu dapat dijadikan masalah PTK. Tegasnya masalah PTK adalah masalah yang solusinya dapat ditemukan oleh guru melalui tindakan-tindakan.

Penelitian bersifat kolaboratif. Artinya penelitian dilakukan bersama oleh guru, baik sesama guru, maupun bersama kolaborator lain seperti dosen, widyaiswara, dan sebagainya. Kolaborasi dilakukan dalam rangka saling memberi dan saling membantu. Saling memberi maksudnya, jika seorang guru tampil dalam pembelajaran, guru lain atau kolaborator lain dapat mengamati. Dari pengamatan itu akan diperoleh masukan untuk perbaikan atau motivasi dari hal-hal yang telah baik. Selanjutnya hal yang telah baik itu dikembangkan.

Di dalam PTK ada tindakan, ada tindakan tertentu untuk melakukan perbaikan. Perbaikan di dalam PTK bukan berupa teori, anjuran, dan saran. Akan tetapi, perbaikan di dalam PTK berupa tindakan, perlakuan yang benar-benar menjurus atau mengarah kepada perbaikan. Bisa saja tindakan itu berasal dari teori tertentu, tetapi bukan teorinya yang lebih penting, tetapi tindakannya. Sejauh mana kemangkusan suatu tindakan untuk memecahkan masalah, itulah hakikat tindakan tersebut.

5.3 Prinsip-prinsip PTK

Ada enam prinsip PTK. Keenam prinisp itu adalah:

(1)         PTK yang dilaksanakan oleh guru hendaknya tidak mengganggu tugas utama guru dalam melaksanakan proses belajar mengajarnya.

(2)         Metode pengumpulan data tidak menyita waktu guru dalam mengajar.

(3)         Metodologi yang digunakan harus reliabel sehingga memunginkan guru dapat mengembangkan PBM dan meerapkannya di kelas lain.

(4)         Masalah yang diteliti hendaknya jangan terlalu luas dan kompleks sehingga dapat dipecahkan sendiri oleh guru melalui pelaksanaan PTK.

(5)         Pemecahan masalah hendkanya mengacu pada kebutuhan guru sebagai peneliti, namun tetap memperhatikan prosedur yang harus ditempuh di lingkungan kerja.

(6)         Jika memunkginkan, PTK dilakukan untuk meningkatkan upaya pencapaian tujuan atau prioritas sekolah di masa datang.

5.4 Tujuan,  Manfaat, dan Prosedur Pelaksanaan PTK

Ada lima tujuan TPK. Kelima tujuan itu adalah: (1) memperbaiki praksis pembelajaran di kelas; (2) meningkatkan kualitas proses pembelajaran; (3) meningkatkan kualitas hasil pembelajaran; (4) meningkatkan pelayanan sekolah terhadap pebelajar; (5) meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran.

Sedangkan manfaat PTK adalah: (1) inovasi pembelajaran; (2) pengembangan kurikulum di tingkat sekolah; (3) peningkatan profesionalisme guru; (4) pengoptimalan pelayanan kepada pebelajar.

Prosedur PTK terdiri dari empat langkah utama. Keempat langkah utama itu adalah perencanaan (plan), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Menurut Djojosuroto (2004:  146), keempat prosedur itu dapat dijabarkan seperti berikut ini:

(1)   Melaksanakan survei terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Teknik yang digunakan: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, tes, atau teknik lain

(2)   Mengidientifikasi berbagai masalah yang dirasakan perlu untuk segera diepcahkan. Misalnya: siswa sangat pasif  selama KBM

(3)   Merumuskan secara jelas, dengan disertai penjelasan tentang penyebab-penyebabnya. Misalnya siswa sangat pasif selama KBM karena dalam memimpin pembelajaran guru hanya menggunakan teknik ceramah.

(4)   Merencanakan tindakan untuk mengatasi masalah yang muncul tersebut. Misalnya untuk pelajaran Bahasa Indonesia guru menerapkan teknik bermain peran (role play) dengan mempertimbangkan bahwa dengan teknik tersebut siswa dapat mengembangkan keterampilan berbahasa dengan ragam yang dikehendaki.

(5)   Melaksanakan tindakan, yang dalam contoh di atas ialah menerpakan teknik bermain peran dalam pelajaran bahasa Indonesia.

(6)   Melakukan pengamatan terhadap kinerja dan perilaku siswa. Tujuannya adalah untuk mengetahui ada tidaknya perubahan keaktifan siswa dalam pembelajaran.

(7)   Menganalisis dan merefleksi: menjelaskan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tindakan. Misalnya dengan teknik bermain peran siswa mulai menampakkan keberaniannya menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam tertentu. Masalahnya: mereka masih terkesan malu-malu kucing.

(8)   Melakukan prencanaaan tindakan ulang untuk meingkatkan kualitas kinerja seperti yang dihendaki dan/atau memecahkan masalah yang tersisa, yang di dalam contoh di atas adalah rasa malu-malu kucing. Ketika sampai ke langkah yang kedelapan ini, peneliti sudah memasuki siklus yang kedua.

Maryunis (2002) menyatakan rangkaian kegiatan dalam prosedur PTK yaitu: (1) merasakan ada yang ‘tidak beres’; (2) memperjelas masalah; (3) merencanakan tindakan; (4) melaksanakan tindakan; (5) mengamati perubahan yang terjadi; dan (6) merenungkan hasil-hasil pengamatan untuk bahan perencanaan berikutnya. Hal itu pada hakikatnya sama dengan yang dikemukakan oleh Djojosuroto di atas.

Prosedur awal dari PTK adalah merasakan ada sesuatu yang ‘tidak beres’.  Jika ada sesuatu yang tidak beres, pertanda ada masalah. Tentu saja masalah itu bukan satu, mungkin lebih dari satu. Oleh karena itu, peneliti (guru) perlu mencari fokus masalah yaitu masalah yang dianggap paling utama. Fokus masalah itu dianalisis oleh peneliti. Inti analisisnya adalah mengungkapkan faktor penyebab masalah, memprediksi implikasi (akibat yang bisa timbul jika masalah tidak diatasi), dan intervensi (deskripsi beberapa strategi pembelajaran sebagai alternatif untuk memecahkan masalah). Jadi penentuan masalah dan analisis masalah merupakan prosedur awal dari PTK.

Prosedur kedua adalah rencana pemecahan masalah atau rencana tindakan. Hal-hal yang direncanakan pada tahap ini adalah memilih dan menentukan pokok bahasan yang akan dijadikan objek PTK; memilih dan menetapkan strategi pembelajaran sebagai tindakan pemecahan masalah; menyusun langkah-langkah penerapan strategi dalam bentuk desain atau rencana pembelajaran; merumuskan kembali masalah, dan diikuti dengan hipotesis tindakan. Jadi ada semacam kegiatan hierarkis pada prosedur ini. Dimulai dari pokok bahasan yang akan diteliti dan diakhiri dengan perumusan hipotesis tindakan.

Perumusan kembali masalah dan hipotesis tindakan disarankan oleh Aleks Maryunis (2002) sebagai berikut:

Masalah:                              Apakah dengan melakukan … dapat dicapai …?

Hipotesis Tindakan:             Dengan melakukan … dapat dicapai ….

Prosedur ketiga adalah adalah penetapan rencana pengumpulan data. Hal yang direncanakan pada bagian ini adalah penyusunan instrumen pengumpul data. Instrumen yang disusun ditetapkan untuk pengumpulan data apa, digunakan kapan, dan yang menggunakan siapa, jika memerlukan responden, respondennya siapa dan jumlahnya berapa. Pada bagian ini benar-benar terlihat hal-hal yang berhubungan dengan pengumpulan data.

Prosedur keempat adalah rencana analisis data. Pada bagian ini ditetapkan teknik untuk menganalisis data. Dengan cara atau teknik bagaimana data dianalisis, ditetapkan pada bagian ini. Selain itu, pada bagian ini juga ditetapkan interpretasi data atau refleksi. Dengan demikian, rencana tindakan selanjutnya dapat disusun berdasarkan hasil refleksi. Begitulah seterusnya sampai pada siklus yang direncanakan.

6. Simpulan

Makalah ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

(1)   Pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan keterampilan untuk peningkatan  mutu baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan  sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan.

(2)   Karya tulis ilmiah bidang pendidikan terdiri dari tujuh macam. Ketujuh macam itu adalah: (1) karya (tulis) ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey, dan atau evaluasi di bidang pendidikan: (2) karya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan; (3) tulisan ilmiah popular di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa; (4) prasarana yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah; (5) buku pelajaran atau modul; (6) diktat pelajaran; dan (7) karya penerjemahan buku pelajaran/ karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan. Ketujuh macam karya tulis itu memiliki hitungan angka kredit yang berbeda-beda sesuai dengan jenis karyanya dan publikasinya.

(3)   Menulis adalah tindak komunikasi yang pada hakikatnya sama dengan berbicara. Kesamaan itu terletak pada tujuan dan muatannya. Tujuan menulis atau berbicara adalah untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sedangkan muatannya (sesuatu itu) adalah berupa pikiran, perasaan, gagasan, pesan, dan pendapat. Perbedaannya terletak pada penggunaan media. Jika berbicara menggunakan bunyi bahasa sebagai mediumnya, sedangkan menulis menggunakan lambang bunyi bahasa sebagai alat penyampainya. Kemahiran yang diperlukan untuk berbicara adalah kemahiran menggunakan bunyi bahasa dan kemahiran untuk menulis adalah kemahiran menggunakan lambang bunyi bahasa. Jika seseorang menganggap menulis itu sama dengan berbicara, ia akan berkata ”menulis itu gampang”.

(4)   Penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu suatu upaya dari pihak terkait, khususnya guru sebagai pengajar, untuk meningkatkan atau memperbaiki proses belajar mengajar ke arah tercapainya tujuan pendidikan atau pengajaran itu sendiri. Masalah penelitiannya bersumber dari lingkungan kelas yang dirasakan sendiri oleh guru untuk diperbaiki, dievaluasi dan akhirnya dibuat suatu keputusan sebagai solusi dan dilaksanakan suatu tindakan untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran tersebut.

Padang, 10 Desember 2005

DAFTAR BACAAN SELANJUTNYA

Bird, Carmel. 1996. Menulis dengan Emosi. Bandung: Kaifa

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Pedoman Penyusunan karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Depdikbud

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 025/O/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Jakarta: Depdikbud.

Gifari, Al Abu. 2002. Kiat Menjadi Penulis Sukses. Bandung: Mujahid

Gunawan, dkk. 1997. Belajar Mengarang dari Narasi hingga Argumentasi. Jakarta: Erlangga

Hernowo. 2003. Andaikata Buku itu Sepotong Pizza. Bandung: Kaifa

Hernowo (ed). 2003. Quantum Writing, Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis. Bandung: Kaifa

Indrawati, dkk. 2001. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Depdiknas

Maryunis, Aleks. 1998. Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pemecahan Masalah (makalah). Padang: Kanwil Depdikbud Sumbar

Parera, Daniel Jos. 1987. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta: Erlangga

Semi, M. Atar. 1990. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya

Suhardjono. 2005. Tanya Jawab Sekitar Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Supardi. 2005. Menyusun Karya Tulis Ilmiah Jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Tarigan, Hendri Guntur. 1986. Pengajaran Menulis. Bandung: Angkasa

Wycoff, Joyce. (pen. Rina). 2003. Menjadi Superkreatif melalui Metode Pemetaan-Pikiran. Bandung: Kaifa

9 pemikiran pada “MENULIS SEBAGAI KEGIATAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU

  1. Pak Zul, Saya (Marjohan dari SMAN 3 Batusangkar) telah mencobakan langkah-langkah cara menulis. Berikut saya pajangkan dalam bentuk pengalaman.

    Langkah-Langkah Menjadi Penulis Dan Manfaatnya Dalam Pengembangan Diri
    Oleh . Marjohan M.Pd
    Guru SMAN 3 Batusangkar
    marjohanusman@yahoo.com

    Menulis adalah aktifitas yang sulit bagi sebagian orang. Banyak orang mengatakan bahwa menulis itu sungguh sulit. Ada yang mengatakan tidak punya waktu untuk menulis, kalau menulis mata menjadi berair. Ada pula yang senang berlindung berlindung dibalik alas an dan kata “tapi”. Saya ingin menulis tapi sibuk, saya ingin menulis tapi anak sering mengganggu, saya ingin …”tapi”, dan masih ada belasan alas an dibalik kata “tapi”.

    Bagi saya sendiri pada mulanya juga beranggapan bahwa menulis itu juga sulit. Beruntung saya berlangganan majalah Kawanku saat belajar di SMP Negeri 1 Payakumbuh di tahun 1980an. Ada profil Leila Chudori Budiman (yang kemudian sering menulis dalam Koran Kompas) pada majalah tersebut dan bercerita bagaimana ia bisa menjadi penulis. Saat itu saya berfikir “wah enak sekali ya menjadi penulis, bisa menjadi orang ngetop, punya banyak teman dan mendapat bonus”.

    Rasa ingin tahu saya tentang bagaimana menjadi penulis terobati saat saya berkenalan dengan berbagai buku biografi para penulis. Ada tetangga saya, Bapak Maran mantap Camat di kota Payakumbuh yang bisa bermain biola dan memiliki koleksi buku-buku. Maka saya sangat suka membaca biografi Ernest Hemingway, Zakiah Daradjat, Buya Hamka dan beberapa biografi penulis novel dan saya menjadi tahu bahwa untuk.

    Saat saya remaja, tidak banyak godaan untuk tumbuh dan berkembang. Tidak banyak stasium televise dan program yang mengganggu kosentrasi belajar, kecuali hanya tayangan televise. Tidak ada HP kamera untuk diotak atik dan juga tidak ada VCD player untuk home theatre, apalagi computer, laptop dan internet seperti zaman sekarang. Oleh karena itu saya bisa berlatih banyak dan saya mempunyai lusinan buku diari yang penuh dengan coretan-coretan mimpi dan pengalaman.

    Pulang sekolah saya terbiasa menulis. Saya merasa sebagai siswa yang paling jago dalam segala hal. Saya jago dalam bidang olah raga, jago matematik dan beberapa mata pelajaran lain, jago dengan bahasa Inggris dan semua teman kagum pada saya. Saya juga jatuh cinta dengan teman sekelas. Mimpi dan ilusi saya sebagai orang yang paling jago saya paparkan dalam buku tulis. Apabila selesai menulis, maka saya serahkan pada teman yang gemar membaca namun tidak bisa menulis. Kadang-kadang saya juga mengundang adik-adik dan anak tetangga untuk mendengar kisah kisa cinta yang saya tulis.

    Bertambah umur tentu bertambah pula pengalaman hidup. Saat kuliah di UNP (saat itu IKIP Padang) saya bekerja paroh waktu sebagai pemandu wisata. Ada pengalaman suka duka selama menjadi guide; dibentak oleh bule-bule, karena mereka tidak memakai bahasa Inggris, atau memperoleh uang tip dari perusahaaan. Pengalaman tersebut juga saya tulis pada buku diari.
    Membaca banyak buku, artikel dan fikiran-fikiran orang lain tentu bisa membuat tulisan lebih berkualitas. Tahun 1997, saya memutuskan untuk menjadi pembaca yang baik. Saya berlatih, membuat target untuk membaca 100 halaman setiap hari. Banyak membaca tentu akan membuat tulisan lebih menarik, saya bisa memaparkan banyak ilustrasi dan contoh-contoh dalam kehidupan.

    Tahun 1990-an, saya menajdi guru di SMAN 1 Lintau. Saya tidak ingin menjadi guru kebanyakan yang aktifitasnya sangat monoton dan tidak bervariasi- pulang ke sekolah, masuk kelas dan mengajar dengan metode konvensional. Saya ingin menjadi guru dengan kepintaran berganda- guru, menguasai bidang studi, menguasai seni berkomunikasi, menguasai bahasa asing yang lain dan trampil dalam menulis. Untuk itu saya membaca banyak buku seputar paedagogy, psikologi, filsafat, biografi dan kisah kisah pencerahan dari orang lain. Akhirnya kemampuan dan energi menulis saya makin meningkat.

    Setiap minggu saya mampu menulis satu atau dua artikel per-minggu. Saya memutuskan untuk mempublikasikanya pada Koran-koran di Sumbar. Saat itu ada tiga Koran yaitu Canang, Haluan dan Singgalang. Tahun 1992 tulisan saya pertama terbit di Koran Singgalang engan judul “Melacak pergaulan remaja dan tidak perlu frustasi bila gagal masuk perguruan tinggi”. Saya sangat bahagia dan energi menulis semakin bertambah, saya terus mengirim artikel ke Koran-koran. Bila dipublikasi saya tentu senang dan kalau ditolak saya berusaha untuk idak kecewa apalagi sampai menjadi frustasi. Frustasi tentu bisa membunuh kreatifitas menulis dan energi untuk melakukan aktifitas lain.

    Di awal tahun 1990-an ada beberapa orang asing dari Perancis- Francoise Brouquisse, Anne Bedos dan Louis Deharveng. Mereka bertugas di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta dan melakukan penelitian tentang hutan tradisionil di Lintau. Orang- orang Perancis tersebut kemudian menjadi temn baik saya dan mereka dating ke Sumatra dan berkunjung ke Rumah saya. Mereka membatu saya dalam mempelajari bahas Perancis dan meminta saya menulis untuk dipublikasi dalam. Dengan demikian tulisan saya tentang parawisata juga dipublikasi pada journal mereka, speleologie,di kota Tarbes, Perancis.

    Ternyata ada manfaat menulis dalam pengembangan karir saya sebagai guru. Tahun 1998 ada seleksi guru teladan (sekarang guru berprestasi). Porto folio penuh dengan klipping artikel-artikel dan tulisan saya dalam bentuk lain, seperti resensi buku. Kemampuan menguasai dua bahasa asing, Inggris dan Perancis, dan skor ujin tulis membuat saya bisa mewakili kecamatan Lintau Buo dan selanjutnya untuk tingkat Kabupaten Tanah Datar untuk seleksi guru TEladan. Di tingkat Provinsi, saya masuk nominasi dan akhirnya tahun 1998 saya tercatat sebagai guru teladan Sumatera Barat dalam usia tiga puluh tahun.

    Tahun 2005, saya mutasi ke kota Batusangkar dan bertugas di sekolah baru pada sekolah “Pelayan Unggul” satu atap SMP-SMA unggul, yang mana kemudian berubah nama menjadi SMP Negeri 5 Batusangkar dan SMA Negeri 3 Batusangkar. Berdomisili di kota batusangkar membuat saya mudah bersentuhan dengan tekhnologi- computer dan internet. Saya terus menulis dan menyalurkan tulisan lewat internet, mengirim artikel ke berbagai Koran lewat e-mail. Kemudian saya juga membuat situs gratisan lewat blogspot. Sebetulnya ada beberapa bentuk blog gratisan lain seperti wordpress dan multiply. Namun saya suka fitur blogspot. . Situs saya bernama http://penulisbatusangkar.blogspot.com/.

    Tahun 2006, saya memperoleh beasiswa untuk mengikuti program pascasarjana di Universitas Negeri Padang. Kemampuan menulis membuat kuliah lancer dan saya bisa selesai pendidikan pada Pascasarjana. Kemampuan menulis membuat tesis saya bisa selesai lebih cepa, saya wisuda pada pertengahan tahun 2008.

    Issue sertifikasi untuk guru professional pun bergulir dan segera menjadi realita. Bagi yang mampu memenuhi angka atau skor porto folio bisa lulus dan memperoleh sertifikasi sebagai guru professional. Saya mengetik ulang semua artikel yang pernah diterbitkan pada Koran-koran. Artikel yang telah diketik ulang saya kirim lagi ke Koran, tentu saja diedit lagi. Semuanya terbit lagi dan saya memperoleh honorarium lagi. Saya juga mempostingkan tulisan tadi dalam blogspot saya dan kumpulan artikel yang pernah dipublikasikan membuat saya bisa lulus sertifikasi lewat portofolio. Betul-betul dana sertifikasi yang telah saya terima membuat saya dan keluarga menjadi lebih sejahtera, bisa membeli laptop dan memperbaiki bangunan rumah.

    Saya inginmenjadi penulis buku dan tidak harus menulis buku tebal dari awal sampai akhir sebanyak 250 halaman. Saya menseleksi beberapa tulisa yang sama temanya menjadi satu buku. Temanya tentang pendidikan dan saya beri judul: SCHOOL HEALING MENYEMBUHKAN PROBLEM PENDIDIKAN. Bulan Februari 2009 ini saya punya rencana untuk menyerahkan pada teman untuk diterbitkan di Provinsi Riau, namun lebih dahulu ada telepon dari Jogjakarta- penerbit Pustaka Insan Madani- ingin mencetak dan meberbit naskah buku atau tulisan saya. Saya menyetujui. Insyaallah, menurut pihak penerbit bahwa dalam bulan Agustus 2009 ini buku saya sudah siap cetak dan siap untuk diluncurkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Moga-moga bermanfaat oleh masyarakat.

    Kemampuan menulis ternyata adalah sebuah keterampilan. Semua orang bisa menjadi penulis asal dia banyak berlatih dan menyenangi aktifitas menulis. Menulis bisa mendatangkan manfaat. Penulis bisa berbagi ide dan opini dengan pembaca, bisa memperoleh honor dan sangat membantu bagi guru untuk memperoleh skor portofolio untuk sertifikasi guru. Penulis artikel bisa mengembangkan diri menjadi penulis buku dan memperoleh royalty pada akhir tahun.

    (Akhirul kalam, terimakasih Pak Zul)

    • Pak Marjohan, menarik sekali kisahnya. Jika ini dipublikasikan dalam bentuk yang lebih lengkap, tentu akan sangat bermanfaat bagi khlayak. Tentu saat ini, Pak marjohan sudah menulisnya dalam bentuk buku. Entah judulnya apa saja, yang jelas jika dibaca oleh rekan sejawat guru dan sebagainya, akan dapat merangsang mereka untuk memulai menulis. Tulisan yang bertumpu dari pengalaman biasanya tidak membosankan. Dengan demikian, Pak marjohan telah menularkan sebagaian dari pengalaman menawan itu kepada rekan-rekan sejawat.
      Puncak, Bogor, 10 September 2009

  2. Terimakasih Pak Zul. Pak Zul telah menjadi one of inspirators bagi saya dan teman-teman di Tanah Datar. Saat ini saya selalu menulis karena selalu dimotivasi.

    teman-teman bisa membaca di :

    http://penulisbatusangkar.blogspot.com

    anyhow terima kasih lagi buat Pak Zul

    Berikut saya lampirkan tulisan (Boleh kan tulisan saya pada komentar ini lebih panjang ya tentang Perilaku industri Televisi yang mengobok obok mental pemuda, sehingga mereka perang di internet dan menulis kata-kata; malingsia, indonesial, indocelaka,

    Bila Media Televisi Kurang Memiliki Nilai Pendidikan

    Oleh. Marjohan M.Pd

    SMAN 3 Batusangkar

    Dalam mata pelajaran civic (kewarganegaraan) dikatakan bahwa ada empat kekuaasaan dalam bernegara yaitu kekuaasaan legislatif (membuat undang-undang) , eksekutif (melaksanakan undang-undang) , yudikatif (menegakan undang-undang) dan kekuasaan atau kekuatan media massa , baik media cetak maupun media elektronik. Setelah tahun 2000, yaitu pasca krisis moneter, industri media massa tampak begitu subur. Sehingga sekarang ada puluhan judul media cetak ( surat kabar, tabloid, dan surat kabar) dan media elektronik (televisi dan radio) berskala lokal (propinsi) dan skala nasional. .

    Media massa mempunyai kekuatan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia . Para pahlawan seperti Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Buya Hamka (dan lain-lain) mampu membentuk opini masyarakat melalui media cetak bahwa mereka adalah bangsa Indonesia dan harus merebut kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Tomo melalui media elektronik (radio) telah mengobarkan gelora emosi rakyat untuk mengusir penjajah.

    Selanjutnya bagaimana pula kekuatan pengaruh dari media televisi dalam mendidik dan membina mental/ akhlak generasi muda dan generasi tua di tanah air ini ? Manfaat televisi dalam membangun mental bangsa bias dilihat dari bentuk atau jenis mata acara yang mereka miliki. Mata acara televisi seperti warta berita, dengan nama lain seperti Buletin Siang, Seputar Indonesia, News Flash, Metro Siang, Liputan Pagi, dan lain-lain, bisa memperkaya informasi masyarakat. Mata Acara dalam bentuk laporan, pengajian dan bincang-bincang juga memperkaya kognitif dan affektif atau mental pemirsanya.

    Lebih lanjut bahwa sekarang telah ada belasan televisi swasta di negara tercinta ini dan apa saja kontribusi mereka dalam pembangunan mental pemirsanya ? Pada umumnya konten (isi) mata acara televisi swasta adalah dalam bentuk hiburan dan iklan. Pagi-pagi buta, sebelum ayam berkokok, sudah ada yang menyuguhi masyarakat film-film dan hiburan. Pada hal secara logika pemirsa belum butuh dihibur karena masih fit and fresh (segar dan bugar). Ini terjadi karena misi televisi swasta adalah bukan untuk mendidik masyarakat tetapi untuk mnghibur dengan missi infotaiment (informasi dan entertainment).

    Hiburan yang diberikan adalah serangkaian film dan film dari pagi sampai larut malam. Kalau dihitung ada 10 atau 11 film yang disuguhkan. Maka kalau ada masyarakat yang kerajingan nonton film, pastilah mereka akan menghabisan waktu belasan jam di depan layar televisi setiap hari dan akan kehilangan saat-saat produktif dalam mengembangkan diri mereka. Sementara itu bentuk informasi yang disuguhkan pada masyarakat adalah dalam bentuk kupasan laporan kriminal dan gunjingan (gossip atau dalam istilah agama adalah ghibah ) seputar kehidupan selebriti- artis, atlit, konglomerat dan public figure yang lain. Apa gunanya ? Ya mungkin agar penonton menjadi tukang gossip atau sekedar memperoleh info murahan sebagai pembunuh waktu.

    Selanjutnya tentang konten film yang cendrung mengekspose kekayaan, kemewahan dan kekerasan. Pemirsa disuguhi adengan actor sinetron yang kerjanya naik mobil- turun mobil mewah, menghardik dan memaki orang tua ata anak. Kalau ada film tentang sekolah maka siswa yang dianggap pintar adalah siswa yang berkacamata tebal dan lugu, kalau guru- ya guru yang killer atau guru miskin yang pergi sekolah mendayung sepeda. Ini adalah bentuk pelecehan terselubung terhadap dunia pendidikn.

    Para presenter televisi pada umumnya cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Mereka adalah orang-orang cerdas yang telah lulus dalam serangkaian seleksi yang ketat. Namun mengapa penampilan mereka tidak lagi membumi dan alami. Rambut yang hitam musti dipoles warna warni dan pakaian yang sopan musti disulap menjadi pakaian yang mempertontonkan aurat dan disuguhi kepada pemirsa yang terdiri dari masyarakat awam, intelektual, pendidik, tokoh spiritual dan kaum ulama, mungkin sambil berujar “lihatlah auratku !”. Atau ada misi khusus untuk mengajak dan memotivasi pemirsa bahwa “beginilah menjadi orang hebat dan orang moderen itu”. Tidak heran bahwa ternyata mereka , presenter, selebriti dan public figure yang satu aliran, telah menginspirasi pemirsa mereka. Remaja dan rakyat awam, untuk mengikuti life style mereka- cara berpakaian, cara berbicara, cara berjalan dan cara berprilaku yang lain. Maka secara perlahan, sadar atau tidak sadar, maka tercabutlah mereka dari gaya hidup asli mereka – budaya sendiri.

    Sekarang terasa dan terlihat bahwa program media elektronik (terutama TV swasta) tidak lagi memberi pencerahan dan pendidikan pada pemirsa mereka. Mata acara yang mereka tayangkan terlihat bisa memicu emosi pemirsanya. Masih ingat kisah kisruhnya rumahtangga Manohara dengan Sultan dari salah satu Kerajaan di negara bagian di Malaysia ? Pasti Romeo dan Juliet abat ke 21 ini pada awalnya pernah memiliki kisah cinta sehingga mereka bisa jumpa dan duduk di mahligai perkawinan. Namun ketika terjadi prahara cinta, maka TV swasta yang memiliki mata acara bergossip atau “bergunjing atau berghibah” mengupas dan mengemas mata acara gossip ini menjadi konsumsi emosi pemirsa. Namun kupasan gossip perceraian Manora versus Pangeran Kelantan cuma disorot secara tajam dari sisi Manohara semata dan tidak satu pun ada sorotan berimbang dari sisi Raja, alias TV swasta tidak netral. Tayangan gossip atas nama membela Manohara sebagai orang Indonesia dan rasa nasionalis maka yang timbul pada pemirsa adalah rasa nasionalis yang kebablasan- emosi yang meledak ledak.

    Apakah pengusaha industri media elektronik tidak tahu bahwa bangsa kita juga pernah dan masih menyadur budaya dan kesenian bangsa lain. Agaknya banyak orang Indonesia yang pernah mendengar dan menikmati lagu-lagu popular yang irmanya disadur dari irama Mandarin, Amerika Latin atau dari yel-yel (lagu) Piala Dunia (Coup de Le Monde) yang berbunyi “go-go-go, alle-alle-alle”, juga irama lagu “guantanamera” serta lagu la bamba yang lain hingga menjadi popular dan menghidupkan industri hiburan di negeri ini. Hadad Alwi sendiri sebagai musisi Islam juga menyadur irama lagu “follow me- follow me” menjadi nasyid yang digandrungi oleh tua dan muda.

    Saat kepemimpinan Abdurrahman Wahid, sebagai Presiden , maka etnis Cina memperoleh kebebasan dalam mengekspresikan diri dan budaya mereka. Selanjutnya sejak itu sampai saat sekarang arak-arakan Barongsai menjadi kesenian yang cukup popular di kota-kota besar. Kemudian tarian Ramayana, yang aslinya berasal dari India , telah menjadi seni budaya di Pulau Jawa. Namun mengapa negara Cina dan India tidak protes dan mencak-mencak di media massa sampai di dunia cyber.

    Namun tiba-tiba ada oknum personel (bukan atas nama pemerintah) dari Malaysia mengadopsi kesenian kita “Tari Pendet”, lagu “rasa sayange” dan lain-lain. Adopsi budaya ini lagi-lagi dikupas dan diberi bumbu emosinal yang membangkitkan amarah dan gelora kebencian dalam tayangan mata acara “televisi- televisi swasta tertentu”. Katanya demi menumbuhkan rasa nasionalis yang cenderung tenggelam. Maka betul-betul bergejolaklah amarah dan kebencian pemuda “ganyang Malaysia …..!!!”. Keberadaan situs gratisan di cyber, lewat blogger, multiply, wordpress, Face Book, juga disalah gunakan dengan membuat situs carut marut antara anak-anak Malaysia dan anak-anak Indonesia . Bermuncullan situs-situs liar “Malingsia, Indoesial, dan lain-lain”, walau mereka sama sama satu rumpun melaya dan mungkin se-agama- Islam yang dalam sholat mengucapkan “innnas sholati wanushuji wamahyaya wamahmati lillahirabbil ‘alamin- sesungguhnya sholatku, perbuatanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah”. Apakah ini yang dinamakan dengan rasa nasionalis- rasa nasionalis untuk anak-anak Indonesia dan anak-anak dari Indonesia ? Apakah seperti ini rasa nasionalis yang diinginkan oleh industri media elektronik, terutama TV swasta, di negeri ini ?

    Agaknya untuk menumbuhkan rasa nasionalis- dalam bentuk dorongan positif- para generasi muda, maka pihak televisi bisa berbuat banyak. Misalnya dengan menyediakan kuota mata acara khusus dan menayang lagu-lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan lagu lagu nasional lain, seperti “Rayuan Pulau Kelapa, Bandung Lautan Api, Jembatan Merah, Dari Sabang Sampai Merauke, dan lain-lain. Namun dalam kenyataanya mereka (para pengusaha industri media elektronik) kikir dalam mempromosikan lagu-lagu nasional, dan lagu kebangsaan. Kenyataan lagu-lagu cinta yang cengeng dan bermesraan yang selalu mengumandang dalam rumah-rumah bangsa Indonesia . Sehingga balita-balita lugu banyak yang lebih hafal lagu-lagu cinta yang patut dikonsumsi orang remaja/.dewasa.

    Dalam sebuah berita koran Singgalang (Agustus, 2009) mengatakan berdasarkan survey wartawannya bahwa cukup banyak orang dewasa di kota Padang yang tidak kenal lagi dengan bait dan lirik lagu “Indonesia Raya”. Ini adalah akibat dampak dari lagu-lagu kebangsaan dan lagu nasional sudah jarang diputar dan dikumandangkan di pesawat radio dan televisi.

    Lantas, apakah konten dan semua mata acara televisi itu jelek ? Terus terang mata acara televisi juga banyak yang bagus. Film-film religi mendapat respon positif di masyarakat yang luas. Mata acara kuiz, jelajah alam dan bincang-bincang cukup bagus untuk menambah wawasan pemirsa mereka. Namun sayang bahwa banyak masyarakat kita yang tidak tahu dengan aturan menonton dan menghidupkan televise, sampai- sampai telah mencederai pendidikan anak-anak mereka sendiri- hingga jadi malas belajar dan beribadah, gara-gara tayangan televise jauh lebih menarik dan menggiurkan.

    Zaman sudah semakin aneh dan banyak orang menjadi entertainment oriented. Membayangkan dan menganggap bahwa kita akan bahagia kalau diberi sarana hiburan. “Mak kalau aku ada reski, mak akan aku belikan televise 24 inchi…!”. Memang aneh mengapa orang tua yang sudah beranjak uzur tidak dimotivasi untuk banyak beribadah untuk mempersiapkan diri menuju Khalik- Sang Pencipta.

    Memang inilah fenomena yang terjadi sekarang, mulai dari usia anak-anak sampa ke usia sangat tua, banyak famili kita yang betul-betul gemar menonton. Isi mata acara yang disuguhkan oleh TV- iklan dan hiburan yang berpotensi mendorong pemirsa dari seluruh lapisan umur untuk pro dengan gaya hidup mewah, hedonisme (ingin hidup serba senang) dan gaya hidup konsumerisme untuk dilahap habis-habisan sehingga memang telah mengubah gaya hidup mereka.

    Sekarang bagi kita yang sadar akan eksistensi televise- plus dan minusnya dan bagi mereka yang belum siap untuk beradaptasi dengan gaya hidup yang ditawarkan televisi yang banyak unsur komersilnya untuk berfikir bila hendak membeli televise dan berfikir bila hendak menghidupkannya. Penulis sendiri dan beberapa orang teman merasakan pengaruh negative televise dalam mendidik anak dan memutuskan untuk bersikap “say no to television”. Namun untuk kebutuhan informasi dan pendidikan maka penulis menyediakan media cetak (majalah dan surat kabar). Kebutuhan jelajah anak dikembangkan lewat dunia buku dan beberapa educational game pada laptop. Mendidik anak tanpa kehadiran televise telah membuat anak- anak bebas dari hardikan dan celaan gara-gara kerajingan nonton televise dan malas belajar dan bekerja.

    (Marjohan M.Pd, Guru SMA Negeri 3 Batusangkar)

    • Pak Majohan, salam sukses, Assalamulaiakum wr wb. Saya baru buka blog hari ini. Kini saya sudah di Padang lagi. Besok saya akan berada di salah satu hotel berbintang di Bukittinggi. Biasa kerja rutin seorang PNS. Begitulah kalau orang kecil menjadi orang penting. Harus dikerjakan sendiri. Tulisan yang tampil di blog lebih dulu saya baca di Singgalang. Bagus sekali, menarik, menyenuth, dan tulisan begitu diperlukan oleh berbagai pihak. Dalam menulis kita memang ingin mengatakan hal yang hendak dikatakan, kita menjelaskan hal yang telah dikatakan. Mudah-mudahan yang berkepentingan membacanya. Minimal kita telah berkontribusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Selamat bertugas, sukses. Salam.
      Padang, 15 September 2009

  3. waalaikum salam Pak Zul, Sang Inspirator bagi guru-guru
    Pak Zul adalah guru yang palin besar diantara guru-guru kecil. Aktifitas yang pak Zul lakukan sangat menyenangkan, sebagian guru bermimpi bisa seperti Pak Zul.

    Pak zul lancar speaking dan writingnya jadi berkah kebahagian dalam karir lebih luas

    Saya mungkin lebih lancar writing, dan saya juga bersyukur. Tadi pagi saya sudah memposkan tulisan yang berjudul :
    Semangat Eksplorasi Dan Kualitas Pendidikan
    dan sudah dikonfirm untuk terbit di Palembang “Sripos- Sriwijaya Pos”

    Kemaren penerbit “insan Madani Jogja” mengatakan bahwa buku saya dimana Pak Zul ikut sebagai endorsement/ memberi komentar , masih berada di percetakan, harus antre , ada 50 buku yang sedang di cetak katanya

    Well, Bpk Zul, long life dan selalu menjadi idola guru di Sumbar dan Indonesia
    Marjohan

    • Terimakasih telah mampir ke blog saya. Berpengalaman sedikit, pengalaman sehari-hari saja. Tugas kita itu kan sederhana. Menuliskan apa yang dilakukan dan melakukan apa yang ditulis. Dengan cara begitu, pengalaman akan terhimpun sendiri. Salam.

  4. salam kenal dari kalimantan tengah
    bisakah blog diakui sebagai media pengembangan profesi guru pak?
    karena blog telah banyak digunakan oleh para guru untuk menulis, walaupun mungkin tidak semua tulisannya tentang pendidikan
    terima kasih pak

    • Untuk pengembangan profesi guru, bagusnya Bapak lihat rujukan yang ada, yakni Peraturan Menpan yang terakhir tentang Angka Kredit Guru. Saya kira, blog tidak bisa untuk pengembangan profesi guru, tetapi tulisan-tulisan yang dimuat di blog, kemungkinan bisa selama memenuhi syarat pengembangan profesi. Terima kasih, Anda mampir di blog saya. Salam untuk sejawat guru di Kalimatan Tengah.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s