SURAT PRIBADI DAN SURAT RESMI DI TANGAN GURU KREATIF

Oleh Zulkarnaini

Tidak ada metode yang paling ampuh, yang ada hanyalah guru yang piawai. Banyak metode pembelajaran yang muncul akhir-akhir ini. Kalangan teoretis menggali dan mengembangkannya terus-menerus sehingga aneka mietode dalam pembelajaran bermunculan. Ada meode yang telah terkodifikasi dengan baik di dalam berbagai buku teori belajar, ada yang muncul di berbagai situs di internet, di berbagai makalah dalam sajian ilmiah, dan di dalam berbagai topik disksui. Pokoknya, metode pembelajaran tumbuh dan berkembang dengan pesat sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Akan tetapi, tidak ada metode yang paling ampuh yang ada hanya guru yang piawai.

Seorang guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP mempersiapkan  Rencana Pelaksanaan Pembelajarannya (RPP) sedemikian rupa. RPP diturunkan dari silabus yang dibuatnya sendiri. Indikator dirumuskan dengan benar sesuai dengan Panduan Penyusunan KTSP yang diterbitkan Badan Standar Nasional Pendidikan. Tujuan pembelajaran, materi ajar, metode, langkah-langkah pembelajaran, alat dan sumber belajar, serta penilaian dirumuskan sesuai dengan Peraturan Manteri Pendidikan Nasional Nomor 41/2007 tentang Standar Proses. Pokoknya secara yuridis dan teoretis, RPP buatan guru ini benar-benar memenuhi syarat, tanpa cacat.

Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dari SK dan KD. Ada dua indikator yang dirumuskan guru untuk dua jam pelajaran, dua kali empat puluh menit. Kedua indikator itu adalah, “ mampu menulis surat pribadi dengan bahasa yang santun dan mampu menulis surat resmi dengan bahasa yang baik dan benar”. Kedua indikator itulah yang menjadi pedoman bagi guru Bahasa Indonesia ini dalam pembelajaran yang akan dilakukannya.

Pagi itu guru BI kita ini berangkat ke sekolah dengan sepeda motor yang biasa dipakainya. Ia berangkat lebih dari biasa. Selain untuk menghindari macet dalam perjalanan, juga untuk mengantisipasi jalan rusak yang harus dilalui menuju ke sekolah. Dalam perjalanan, di atas sepeda motornya guru berpikir tentang dua hal itu. Jalan macet dan jalan rusak, itulah yang ia pikirkan. Memikirkan jalan macet dan jalan rusak, bukan untuk masud apa-apa. Ia hanya berpikir, bisakah kedua hal itu menjadi bahan ajar untuk pembelajaran menulis surat pribadi dan surat resmi? Sampai di sekolah, pertanyaan itu semakin mendesak untuk dijawab. “Bisakah…?” Ia tidak dapat memastikan jawabannya.

Setelah membuka pelajaran di kelas, guru bercerita tentang jalan macet dan jalan rusak. Sesekali guru melontarkan pertanyaan tentang kedua hal itu. Anak-anak bereaksi, berkomentar, dan berpendapat tentang kedua topik itu. Guru kreatif ini mengubah hamper semua komponen RPP yang telah disiapkannya. Ia berpegang kepada dua hal yakni indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran. Komponen lain diubahnya secara spontan. Pada dasarnya RPP yang ada itu tidak seutuhnya dipakai.

“Kalian semua merasakan akibat jalan macet dan jalan rusak yang kita lalyu menuju sekolah ini?” Tanya guru.

“Ya, ya, Bu, kami merasakannya, bahkan kadang-kadang kami terlambat karenanya,” jawab sebagian besar siswa yang melewati jakan itu.

“Baiklah, kita mulai belajar dari situ, dari jalan macet dan jalan rusak,” kata guru meyakinkan dirinya bahwa gagasan spotannya akan berhasil. Gagasan kreatif untuk pembelajaran hari ini diasusmikan akan mangkus.

“Belajar tentang jalan macet dan rusak, Bu?” tanya seorang siswa dengan nada agak berkelakar.

“Bukankah topik kita hari ini tentang surat pribadi dan surat resmi, Bu?” tanya siswa yang lain bersungguh-sungguh. Siswa ini tahu tentang topik pembelajaran dari silabus yang dibagikan guru BI ini pada awal semester. Memang sudah menjadi kebiasannya mengikuti ketentuan yang ada, bahwa siswa wajib mengetahui silabus pembelajaran pada awal tahun atau awal semester.

“Ya, kita belajar tentang surat pribadi dan surat resmi melalui jalan macet dan rusak,” kata guru untuk menjawab kedua pertanyaan itu.

Sebelum siswa lain bertanya dan berkomentar, guru memberikan instruksi pertama dan diiringi dengan instruksi kedua. Instruksi pertama ialah meminta siswa memilih satu dari dua topik itu, jalan rusak atau jalan macet. Disusul dengan instruksi kedua, “tulislah satu paragraf yang mendeskripsikan jalan macet atau jalan rusak yang Kalian lewati! Hanya satu topik untuk satu orang, tidak perlu kedua topik itu dideskripsikan,” kata guru. Sebagaian besar siswa kelas itu mulai bekerja, mulai menulis paragraph tanpa pertanyaan karena konsep, teori, dan teknik menulis paragraph telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Sementara beberapa orang lain masih bingung atas tugas itu. Mereka mungkin tidak memahami instruksi atau mungkin juga tidak tahu cara menulis paragraph deskriptif.

Untuk sejumlah siswa yang terakhir ini, guru memberikan layanan khusus. Guru mendatangi meja siswa satu-persatu. Ada di anataranya yang dibuatkan kalimat pertama oleh guru. Ada juga yang hanya diberi pengarahan dan bimbingan secara teknis dan teoretis. Hal itu memang sudah biasa dilakukan guru BI ini. Ia memberikan pelayan yang adil dan merata kepada setiap siswa dalam pembelajaran.

Sejumlah siswa diminta mempresentasikan paragraf yang dibuatnya. Guru berkomentar untuk memberikan motivasi. Selesai presentasi guru mengajukan pertanyaan tentang orang atau lembaga yang bertanggung jawab tentang jalan macet dan jalan rusak. Siswa menjawab secara bervariasi. Untuk jalan macet misalnya, ada yang mengatakan penanggung jawabnya adalah polisi lalu lintas dan ada juga yang menyebut dinas lalu-lintas jalan raya. Bahkan ada pula yang menjawab bahwa kemacetan itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Untuk jalan rusak hampir semua siswa berpendapat bahwa penanggung jawabnya adalah pemerintah daerah melalui dinas pekerjaan umum.  Guru tidak berkoemntar banyak tentang hal itu karena memang itu bukan tujuan pembelajaran, hanya pengantar menuju inti pembelajaran.

Langkah selanjutnya yang dilakukan guru dalam pembelajaran ini adalah meminta siswa menulis surat kepada instansi yang bertanggung jawab terhadap jalan macet atau jalan rusak. Isi suratnya selain deskripsi kemacetan atau kerusakan, juga akibat yang ditimbulkan dan saran pemecahannya. Masing-masing siswa mulai bekerja menulis surat, hampir semua siswa melakukannya. Beberapa orang siswa yang tertegun-tegun untuk memulai, dihampiri oleh guru. Guru BI ini memberikan bantuan secara optimal kepada mereka yang lambat. Di antaranya, guru membantu membuatkan kalimat pertama pada draf surat yang akan ditulis oleh siswa. Siswa lambat mendapat bantuan, siswa sedang mendapat motivasi, dan siswa cepat mendapat motivasi optimal pula.

Usai menulis draf surat untuk instansi yang berkompeten, siswa diminta presentasikan draf yang dibuatnya. Guru memberikan masukan untuk perbaikan atau revisi surat dan memberikan penguatan atau konformasi terhadap draf yang telah memenuhi kriteria. Dalam konteks ini guru benar-benar berupaya membelajarkan siswa, bukan mengajarinya. Guru benar-benar berusaha untuk menjadi fasilitator, bukan menyedaiakan bahan siap saja. Guru benar-benar berupaya untuk mengembangkan pola dan alur berpikir siswa, bukan mengisi pikirannya dengan konsep-konsep teoretis belaka. Guru benar-benar berinisiatif untuk menerampilkan siswa, karena menulis adalah bentuk keterampilan berbahasa.

Kini draf surat telah direvisi, diperbaiki, dan disempurnakan oleh siswa. Siswa memasukkan surat ke dalam sampul. Pada sampul telah ditulis pula alamat yang dituju dan alamat yang mengirim. Penulisan alamat pada sampul disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Tata tulis alamat, penggunaan tanda titik, koma, dan tanda baca lainnya telah terakomodasi di dalam bahan ajar yang dibuat oleh guru. Siswa mengikuti petunjuk yang ada pada bahan ajar itu. Guru melakukan observasi terhadap semua alamat yang ditulis siswa pada sampul surat. Hanya beberapa orang siswa saja yang memerlukan penulisan ulang alamatnya. Hal itu terjadi karena beberapa kesalahan kecil. Akan tetapi, guru BI ini tidak ingin ada keasalahan sekecil apapun pada alamat surat.

“Malang betul kita, “ kata guru kepada siswanya. Guru memperlihatkan wajah bersungguh-sungguh.

“Ada apa, Bu?” Tanya beberapa orang siswa.

“Pejabat yang tertera pada alamat suratmu, saat ini sedang tidak berada di tempat. Mereka ada kegiatan di luar daerah. Pegawainya yang biasa menulis balasan surat masyarakat, juga berhalangan sehingga tidak berada di kantor. Oleh karena itu, pejabat yang bersangkutan meminta bantuanmu untuk membalas surat yang di dalam sampul itu,” kata guru sambil mengamati satu-persatu reaksi siswanya.

Bisakan, Kamu membantu?” tanya guru lagi.

Ada siswa yang kebingungan, mereka tidak langsung menjawab. Sejenak kemudian hampir semua siswa bertanya serentak. “Caranya bagaimana, Bu?”

“Caranranya tidak sulit. Sekarang serahkan surat yang sudah Kamu buat kepada teman yang duduk di sebelah kananmu.  Teman yang menerima surat dapat membuka dan membacanya sehingga memahami isi surat itu. Kemudian, buatlahlah draf balasannya dengan format berikut!” kata guru sambil menayangkan melalui carta format surat suatu instansi.

“Baik, Bu, kami akan membantu,” kata siswa setelah mengamati format surat resmi yang ditayangkan guru.

Terlihat dari wajah guru BI ini rasa puas, rasa senang, dasa nikmat menjadi guru. Sementara itu para siswa mulai bekerja. Mereka bekerja sungguh-sungguh. Siswa yang terlihat mendapat kesulitan langsung didatangi dan dibantu oleh guru. Begitulah akhirnya surat balasan itu pun selesai. Pada kesempatan berikut siswa kembali mempresentasikan hasil kerjanya. Kritik dan saran dari rekan-rekannya menjadi acuan untuk merevisi surat balasan itu.

Pada bagian akhir pertemuan yang dua jam pelajaran itu, guru menegaskan konsep surat pribadi dan surat resmi. Penegasan konsep itu dilakukan setelah mendengarkan respon dari siswa, mendenngarkan pemahaman siswa. Guru tidak memulai dari konsep tetapi mulai dari menulis surat. Dari surat yang dibuat itulah guru memberikan konfirmasi tentang surat pribadi dan surat resmi. Ketika melakukan refleksi terhadap pembelajaran itu, guru menyimpulkan sendiri bahwa pendekatan pembelajaran yang dilakukannya adalah pendekatan indikutif. Bukan pendekatan deduktif seperti yang dilakukan oleh kebanyakan guru.

19 pemikiran pada “SURAT PRIBADI DAN SURAT RESMI DI TANGAN GURU KREATIF

  1. Pak Datuak, Saya pikir guru seperti dalam tulisan inilah dibutuhkan oleh anak-anak dan sekaligus bangsa kita hari ini. Guru yang mampu memanfaatkan ‘pengalaman bersama siswa’ diangkat sedemikian rupa sesuai tingkat pemahaman siswa sehingga menjadikan pembelajaran lebih menarik. Banyak manfaat yang akan diperoleh dengan cara ini: guru puas, siswa mengerti, tujuan pembelajaran tercapai dan insya Allah menjadi Amal sholeh!
    Terima kasih pak datuak saya mendapat inspirasi dari tulisan ini.
    Drs. As’ad Pengawas Diknas Kab. Padang Pariaman

  2. trim’s ya Pak info yg dibrkn!kebetulan saya mngjr bhs ind di sebuah smp di kab. Gunungkidul Yk.sy mdpt inspirasi dr tlsan Bpk.mhn berkenan mengirimkan inovasi pbljr bhs. ind atau cth media pembelajaran bhs yg lain shg bisa membuat siswa lbh antusias utk bljr.
    mhn maaf ada hal yg krg pas dan trim’s sblmnya.

    • Makasi kembali, Bu Dewi telah mampir ke blog saya. Syukurlah jika tulisan yang ada di blog ini bermanfaat bagi rekan sejawat guru. Saya berupaya berbagi dengan sejawat. Tentu pula saya menunggu gagasan-gagasan baru dari sejawat. Hal penting yang perlu diingat adalah, “Kekuranganku ada pada kelebihanmu. Kalau bukan karena kekuranganku kelebihanmu tidak bermakna”. Insya-Allah saya akan menulis lagi tentang pembelajaran yang kreatif. Salam untuk rekan-rekan di Gunung Kidul.

    • Makasi, kembali. Makasi juga, Anda telah mampir di blog saya. Jika ada gagasan baru tentang pembelajaran bahasa, Anda dapat menulis di ruang ini sehingga tersebar ke rekan-rekan sejawat guru. Makasi

  3. Info yang bagus bapak. tapi saran dari saya lebih bagus lagi jika membuat surat lagi anak2 diajak ke kantor pos untuk mengetahui sistematika di kantor pos bpk. yang insya allah saya akan ajak anak2 didik saya untuk membuat surat pribadi ditujukan ke rumah masing2 atau teman dll. seperti metode diatas terus di poskan.

  4. Terima kasih informasinya ya Pak , namun sebagai guru BI yang biasa mengajar dalam keseharian praktiknya antara Materi Menulis Surat Pribadi dan Membalas Surat Pribadi itu biasanya terpisah, namun pada penjelasan Bapak tergabung dalam waktu dua jam pelajaran. Sebagai guru biasa saya mohon penjelasan lagi.

    • Bu Emilya, terima kasih kembali. Ibu belum menyebutkan tempat tugas Ibu. Jika Ibu sebutkan di SD, SMP, atau SMA, saya mungkin bisa menjawab lebih pas. Begini, Bu, kalau waktunya terpisah tidak masalah asal digunakan surat yang sama untuk membuat surat resmi. Anak-anak dapat memperbaiki dan menyempurnkan surat pribadinya di luar jam atau penyempurnaannya menjadi tugas terstruktur. Pada pertemuan jam tatap muka untuk surat dinas, surat yang disempurnakan itu dapat dijaadikan sebagai landasan atau dasar. Begitu, Bu. Salam

  5. Salam kenal Pak, Saya mengajar disebuah sekolah tingkat smp di Pasaman. kebetulan saya melihat blog Bapak tentang pembelajaran dan terima kasih atas informasinya,

    • Pak Sadimal, terima kasih kembali, Anda telah singgal di blog saya. Saya akan sangat berbahagia jika tulisan-tulisan pada blog ini bermanfaat bagi rekan-rekan sejawat guru,pengawas sekolah, dan praktisi pendidikan lainnya. Salam kenal juga.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s